jump to navigation

Diuber Celeng! Thu, 25 May 2006

Posted by na:Nk in Canda.
Tags: ,
trackback

Menguasai lebih dari satu bahasa tentu saja tidak mudah. Agak sulit untuk belajar bahasa asing kalau jaman keemasan kemampuan belajar bahasa sudah kita lewati. Tapi, jangan putus asa lebih dahulu, tentu saja kita masih dapat belajar. Di atas usia emas tersebut, untuk mempelajari bahasa asing, perlu semangat tinggi dan siasat belajar yang lebih baik.

Nah, untuk belajar bahasa asing ini, saya sedang mencoba sebuah cara, yaitu dengan banyak menterjemahkan cerita-cerita dari bahasa yang kita pelajari. Cara ini saya lakukan untuk mempelajari Bahasa Jawa, yang seperti kita tahu, tidak mudah untuk dipelajari. Tapi, biar tidak mudah, tetap semangat untuk belajar dong… apalagi saya punya ibu mertua orang jawa tulen! Untuk belajar menerjemahkan ini, saya mulai dengan sebuah tulisan ringan saja, berupa humor dari salah satu humor-humor yang sering berseliweran di mailbox.

Berikut saya sertakan humor tersebut dan hasil terjemahannya (di dalam tanda kurung). Tentu saja masih banyak kesalahan kecil di sana-sini terutama dalam pemilihan kata-kata yang tepat… tetapi telah saya usahakan sebisa saya agar sedapat mungkin tidak mengubah makna kalimat-kalimat bahasa aslinya. Itu kan prinsip menterjemahkan: tak boleh mengubah makna aslinya!

Untuk rekan-rekan, terutama yang bisa Bahasa Jawa, silakan disimak dan tolong koreksi atau masukan-masukannya yaa… Maklum, namanya juga masih belajar! Atau ada terjemahan pembanding dari rekan-rekan, terutama para native speaker Boso Jowo? Boleh juga tuh… paling hasilnya ga beda jauh-jauh amat lah… Buat yang tidak berbahasa Jawa, berbahagialah, sekarang Anda dapat menikmati humor di yang saya terjemahkan ini :)

Diuber Celeng
(Diuber Tukang Kaleng)

Sore-sore mari mulih angon, Bunali pethuk ambek Brudin.
(Sore-sore, Bunali yang pulang dari beli abon untuk disimpan di lemari diketuk sampai marah oleh Brudin)

“Waras ta!!” jare Brudin ndhik Bunali.
(”Kamu nggak gila kan?” jari si Brudin nunjuk Bunali).

“Waduh dino iki aku meh mati disruduk celeng,” jare Bunali.
(”Waduh, gara-gara sabun dino ini… aku hampir mati kalo meneguknya sekaleng,” kata Bunali)

“Lho kok isok ngono, yok opo ceritone?” jare Brudin.
(”Lho kok terisak-isak gitu… gimana ceritanya?” tanya Brudin)

“Mau awan iku aku pethuk celeng, terus tak garai, tak kileni ambek pring dhadhak nguamuk. Aku diuber-uber katene disrudhuk, untunge iku celenge bolak-balik tibo kepleset, dhadhi aku sempet menek wit klopo,” jare Bunali.
(Aku mau berkawan sama penjual kaleng, terus ditenggarai nggak memadai, dia jadi ngambek sampe ngamuk dan berdahak. Aku diuber-uber… katanya sih mau dikasih nasi uduk. Untung penjual kalengnya kepleset sampe jatuh bolak-balik, jadi aku sempet naik pohon kelapa sawit neneknya,” kata Bunali.)

“Waduh cik sereme, lek aku sing ngalami wis pucet kepuyuh-puyuh gak karuan” jare Brudin.
(Waduh buah ceremai kecil [panggilan kesayangan mungkin?] aku yang melek dan nggak ngalamin aja pucet sampe kayak burung-burung puyuh gak karuan,” kata Brudin.

“Lho, aku iyo ngono, kon pikir celenge kepleset opo?”
(”loh, aku ya begini pikirnya… tukang kalengnya kepleset apa?”)

–oOo–

Ternyata asyik juga belajar Bahasa Jawa!

Comments»

1. endah - Sat, 15 Apr 2006

ga nyambung blas…